Perizinan PLTS Atap di Indonesia 2026: Kuota, PLN Mobile, SLO, dan Cara Menghindari Proyek “Nyangkut”
PLTS atap itu bukan cuma soal panel, inverter, dan struktur atap. Di Indonesia, proyek PLTS atap (terutama yang terhubung ke jaringan) sangat dipengaruhi regulasi, kuota, periode pendaftaran, dan aspek keselamatan instalasi.
Sejak terbitnya Permen ESDM No. 2 Tahun 2024, proses pengajuan PLTS atap dibuat lebih terencana melalui kuota per clustering oleh pemegang IUPTLU (umumnya PLN).
Di saat yang sama, skema ekspor-impor (net metering) tidak lagi menjadi basis pengurangan tagihan seperti era sebelumnya.
Artikel ini membahas alur perizinan yang praktis, jebakan paling umum, dan kenapa perusahaan (terutama manufaktur) biasanya lebih aman menggunakan pendamping owner-side seperti Sun Powerindo.
Kenapa perizinan PLTS atap sekarang terasa “lebih ketat”?
1) Ada kuota resmi berbasis clustering
Permen ESDM 2/2024 mewajibkan pemegang IUPTLU menyusun kuota pengembangan PLTS atap dan membaginya berdasarkan clustering (unit pelayanan pelanggan).
Artinya: pengajuan PLTS atap tidak selalu bisa “jalan kapan saja” — bisa tertahan karena kuota lokasi kamu sedang penuh.
2) Periode pengajuan dibuka 2 kali setahun
Pemerintah membuka permohonan pembangunan dan pemasangan PLTS atap dua kali setahun: Januari dan Juli.
Kalau kamu meleset timing atau dokumen belum siap saat window dibuka, proyek bisa mundur satu periode.
3) Ekspor-impor bukan lagi “senjata” utama penghematan
Dalam aturan baru, poin ekspor-impor/net metering tidak jadi andalan seperti dulu. Ini membuat strategi desain harus berubah: bukan “pasang sebesar-besarnya”, tapi pasang secerdas-cerdasnya sesuai profil beban siang.
Update kuota PLTS atap Januari 2026 (yang bikin banyak orang buru-buru)
Menurut pemberitaan Katadata (Desember 2025), pemerintah membuka kuota pemasangan PLTS atap pada Januari 2026 sebesar 485 MW, dibagi untuk:
304 MW untuk daftar tunggu (waiting list)
183 MW untuk pelanggan baru, dibuka melalui PLN Mobile
Ini sebabnya banyak perusahaan ingin bergerak cepat: kuota punya “rasa terbatas”, dan siapa yang siap duluan biasanya lebih aman.
Alur perizinan PLTS atap
Tahap 1 — Pra-studi: pastikan proyek “make sense” di aturan baru
Sebelum bicara izin, pastikan dulu desainnya tidak bikin energi berlebih terbuang. Fokus utama:
Profil beban siang (jam produksi) vs malam
Target penghematan realistis
Risiko teknis: proteksi, panel utama, kualitas daya (khusus industri)
Banyak proyek nyangkut bukan karena PLN “susah”, tapi karena desain awalnya tidak selaras dengan aturan + kondisi beban aktual.
Tahap 2 — Cek kuota & siapkan dokumen pengajuan
Karena kuota dibagi per clustering, kamu perlu memastikan:
lokasi IDPEL/UP3 sesuai kuota tersedia
kapasitas yang diajukan tepat (seringnya mengacu kapasitas inverter dalam praktik layanan di lapangan)
Regulasi menjelaskan kuota disusun oleh pemegang IUPTLU dan dibagi per clustering.
Tahap 3 — Ajukan permohonan di periode resmi (PLN Mobile)
Permohonan dibuka Januari/Juli dan umumnya diproses berbasis urutan masuk saat kuota tersedia.
Tahap 4 — Instalasi, uji, dan pemenuhan aspek keselamatan (termasuk SLO)
Salah satu elemen krusial adalah Sertifikat Laik Operasi (SLO).
Ditjen Ketenagalistrikan menjelaskan SLO adalah bukti pengakuan formal bahwa instalasi tenaga listrik memenuhi persyaratan dan laik dioperasikan.
Dasar kewajiban juga dikaitkan dengan UU Ketenagalistrikan (sebagaimana dirujuk dalam FAQ Ditjen).
7 kesalahan paling sering yang bikin izin PLTS atap lambat atau gagal
Baru siap desain setelah window pendaftaran dibuka → telat, masuk waiting list.
Dokumen teknis tidak rapi (SLD, proteksi, spesifikasi perangkat)
Salah sizing → energi siang berlebih besar, value proyek turun (apalagi saat net metering tidak jadi penopang utama).
Asumsi “pasti bisa pasang sebesar daya tersambung” (logika lama) — padahal sekarang bergantung kuota clustering.
Koordinasi vendor lemah → rework desain, re-submit
Mengabaikan jalur SLO sejak awal → instalasi siap tapi legalitas tersendat.
Tidak ada pihak yang jadi “wasit” di sisi owner (semua keputusan didorong vendor)
Kenapa perusahaan biasanya lebih aman pakai jasa Sun Powerindo (owner-side)
Sun Powerindo bukan EPC dan bukan penjual panel. Kami berdiri di sisi klien untuk memastikan proyek PLTS atap:
patuh regulasi dan selaras kuota
desainnya realistis dengan kondisi beban (bukan sekadar “kWp besar”)
dokumen rapi sejak awal agar tidak buang waktu saat window pendaftaran
jalur keselamatan & SLO dipersiapkan dari awal
Butuh cek kuota, review desain, dan pendampingan perizinan PLTS atap sampai siap operasi?
Sun Powerindo bantu dari tahap pra-studi, dokumen pengajuan, koordinasi vendor, hingga kesiapan SLO.
📩 Email: consultant@sunpowerindo.com
📱 WhatsApp: (+62) 811-2801-8188
FAQ
1) Pengajuan PLTS atap dibuka kapan?
Permohonan pemasangan PLTS atap dibuka dua kali setahun: Januari dan Juli.
2) Apa itu kuota PLTS atap dan kenapa penting?
Kuota adalah batas pengembangan PLTS atap yang disusun pemegang IUPTLU dan dibagi berdasarkan clustering. Kuota menentukan apakah pengajuan bisa diproses atau menunggu periode berikutnya.
3) Apa itu SLO untuk PLTS atap?
SLO adalah bukti pengakuan formal bahwa instalasi tenaga listrik memenuhi persyaratan dan laik dioperasikan.
4) Berapa kuota PLTS atap Januari 2026?
Pemberitaan menyebut kuota Januari 2026 sebesar 485 MW, terdiri dari alokasi waiting list dan pelanggan baru melalui PLN Mobile.