Optimasi HVAC & AHU di Pabrik: Cara Hemat Listrik Tanpa Mengorbankan Kualitas Produksi

Di banyak pabrik, HVAC (pendingin/ventilasi) bukan sekadar “biar adem”—tapi bagian dari kualitas proses: suhu, kelembapan, tekanan ruangan, bahkan kebersihan udara. Masalahnya, sistem HVAC juga sering jadi salah satu penyumbang konsumsi listrik terbesar karena:

  • nyala “mode aman” terus (24/7),

  • setpoint dibuat terlalu rendah,

  • aliran udara (airflow) tidak seimbang,

  • kontrolnya tidak sinkron dengan jam produksi.

Kabar baiknya: penghematan HVAC paling sering tidak harus mulai dari beli chiller baru. Banyak saving datang dari pengaturan dan disiplin operasional.

5 tanda HVAC/AHU pabrik kamu “boros diam-diam”

  1. Suhu ruangan naik turun, tapi listrik tetap tinggi.

  2. Banyak komplain “terlalu dingin” di area tertentu tapi area lain panas.

  3. Filter cepat kotor, tekanan statis tinggi, airflow turun.

  4. Unit sering start-stop (cycling) atau justru jalan terus tanpa kontrol.

  5. Tagihan naik saat produksi rendah (indikasi schedule tidak mengikuti beban).

Kalau 2–3 tanda ini muncul, biasanya ada quick wins yang bisa diambil.

Cara mencapai efisiensi HVAC/AHU di pabrik (step-by-step)

1) Mulai dari tujuan proses, bukan dari alat

Tentukan dulu kebutuhan operasional:

  • Target suhu & kelembapan (per area)

  • Jam operasi per shift

  • Kebutuhan tekanan ruang (misal area bersih)

  • Batas toleransi (berapa derajat boleh naik saat idle)

Tanpa definisi ini, optimasi sering “berantem” dengan QA/produksi.

2) Audit sederhana: ukur yang relevan (2–7 hari)

Minimal data yang sebaiknya diambil:

  • kWh & demand (kW) HVAC (kalau bisa submeter)

  • suhu/kelembapan per zona

  • pressure drop filter, static pressure ducting

  • supply/return air temp

  • jam operasi aktual unit

Data kecil yang konsisten lebih berguna daripada data besar tapi random.

3) Quick wins yang paling sering “ngena”

A. Setpoint & deadband (aturan main suhu)

Setpoint terlalu rendah = kompresor/chiller kerja keras terus. Mulai dari penyesuaian bertahap (misal naik 1°C), lalu lihat dampaknya pada kualitas proses dan konsumsi.

B. Schedule berbasis produksi

Banyak pabrik menjalankan AHU/AC full sepanjang hari “biar aman”. Padahal area tertentu bisa dibuat mode idle (airflow rendah) saat non-produksi.

C. Balancing airflow & damper tuning

Kalau satu zona kebagian airflow berlebihan, zona lain kekurangan, yang terjadi: orang minta “tambah AC” padahal problemnya distribusi.

D. VSD (Variable Speed Drive) untuk fan/pompa

Fan/pompa jarang butuh 100% terus. Kontrol kecepatan sering lebih hemat daripada kontrol “on/off”.

E. Filter & coil maintenance yang benar

Filter kotor menaikkan pressure drop → fan kerja lebih berat → listrik naik. Banyak penghematan datang dari SOP maintenance + indikator yang tepat (bukan “jadwal buta”).

4) Pastikan saving itu nyata: M&V (Measurement & Verification)

Optimasi HVAC gampang “terlihat sukses” karena cuaca berubah, produksi berubah, atau occupancy berubah. Jadi saving harus diukur terhadap baseline, minimal:

  • bandingkan kWh per jam operasi atau kWh per output produksi

  • catat variabel pengaruh (shift, suhu luar, output)

Kesalahan klasik: “pasang AC tambahan” padahal akar masalah bukan kapasitas

Menambah kapasitas pendingin sering jadi solusi instan, tapi ini seperti menambah debit air ke pipa bocor.

Kalau airflow, kontrol, dan schedule masih semrawut, AC tambahan hanya menambah biaya listrik dan maintenance.

Peran Sun Powerindo (HVAC owner-side): hemat energi + tetap aman untuk proses

Sun Powerindo membantu pabrik mengoptimalkan HVAC/AHU dengan pendekatan owner-side:

  • Assessment cepat: baseline, pola operasi, dan akar borosnya

  • Roadmap quick wins: setpoint, schedule, balancing, SOP maintenance

  • Tuning kontrol: sequence, VSD strategy, zoning

  • M&V sederhana: supaya saving bisa dibuktikan, bukan sekadar “feels better”

Ingin tahu potensi penghematan HVAC/AHU di pabrik Anda dalam 30–90 hari tanpa ganggu produksi?

📩 consultant@sunpowerindo.com | 📱 (+62) 811-2801-8188

FAQ

1) Cara paling cepat menghemat listrik HVAC pabrik apa?

Mulai dari setpoint yang realistis, schedule sesuai jam produksi, dan balancing airflow agar tidak “overcooling” di satu zona.

2) Kapan perlu VSD untuk fan/pompa HVAC?

Jika beban berubah-ubah dan sistem sering jalan parsial, VSD biasanya memberi penghematan lebih stabil dibanding kontrol on/off.

3) Kenapa filter bisa bikin listrik naik?

Filter yang kotor menaikkan pressure drop sehingga fan bekerja lebih berat dan konsumsi listrik meningkat.

Previous
Previous

Strategi Hemat Energi + PLTS Atap untuk Pabrik: Roadmap yang Benar

Next
Next

Efisiensi Energi di Pabrik: Cara Menghemat Listrik Tanpa Mengorbankan Produksi